Perbedaan Respirasi Aerob dan Respirasi Anaerob
Perbedaan Respirasi Aerob dan Respirasi Anaerob

Perbedaan Respirasi Aerob dan Respirasi Anaerob

Diposting pada

Pengertian Respirasi Aerob

Respirasi Aerob merupakan sebuah reaksi respirasi yang akan membutuhkan aerobik dan oksigen. Pada reaksi respirasi satu ini maka akan mendapatkan sebuah energi yang cukup besar. Energi ini akan di simpan membentuk energi kimia yang berupa ATP.

Energi yang di sebabkan oleh pelepasan posfat akan berfungsi untuk menjalankan reaksi kimia, trasnportasi, gerak, reproduksi dan lain – lain.

4 Tahap Mekanisme Respirasi Aerob

Terdapat beberapa tahapan Respirasi Aerob diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Glikolisis

Glikolisis merupakan sebuah reaksi kimia dimana gula heksosa di ubah menjadi asam piruvat. Reaksi ini biasanya akan berlangsung berada di dalam sitoplasma sel sehingga tidak di perlukan adanya oksigen. Adapun reaksi ini memiliki 2 fase diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Fase Persiapan

Di fase inilah ATP akan memfosforilasi glukosa. Kemudian nantinya enzim heksokinase akan membentuk sebuah glukosa fosfat dan ADP.  Untuk reaksi berikutnya akan menggukan proses terbentuknya gula ketosa yang sebelumnya gula aldosa. Reaksi ini biasanya akan di katalis pada enzim fosfoglukoisomerase sehingga akan mengubah glukosa 6 fosfat akan di fosforilasi oleh enzim fosfofruktokinase dan ATP yang menhasilkan fruktosa-1, ADP dan 6-difosfat.

Tahap selanjutnya adalah fruktosa-1  dan 6-difosfat akan di pecah membentuk 2 molekul yang dengan 3 karbon yakni gliseraldehida-3-fosfat dan dihidroasetonfosfat menggunakan bantuan enzim aldolase. Nah, pada tahap ini menghasilkan gliseldehida-3-fosfat sehingga tidak menghasilkan energi tetapi di butuhkan adanya energi 2 ATP.

2. Fase Oksidasi

Pada tahap ini membutuhkan adanya penambahan fosfat anorganik  untuk karbon pertama. Kemudian, reduksi NAD akan membentuk NADH2 yang akan menggunakan enzim fosfogliseraldehida dehidrogenase. Pada tahap ini akan membentuk energi 2 NADH dan 4 ATP.

2. Dekarboksilasi Oksidatif Piruvat

Pada tahap ini adalah sebuah reaksi yang menghasilkan asetil – CoA. Dekarboksilasi oksidatif piruvat menjadi sebuah proses untuk mengubah asam piruvat menjadi senyawa asetil – CoA. Nah, jika  di gabungkan dengan asam aksaloasetat akan menjadi siklus kreb. Pada luar membran mitokondria inilah akan berlangsungnya reaksi ini. Untuk langkah awal maka akan di bentuknya suatu gabungan antara piruvat dengan TPP yang akan di ikuti dengan dekarboksilasi asam piruvat.

Langkan kedua yakni unit asetaldehida yang sudah tertinggal setelah dekarbosilasi akan bereaksi bersama asam lipoat dan menghasilkan astetil – asam lipoat yang komplek. Kemudian langkah ini juga akan terjadinya reduksi asam lipoat dan aldehida akan di oksidasi membentuk asam dengan menghasilkan tioster dan asam lipoat.

Langkah ketiga yakni terjadinya proses pelepasan pada gugus asetil menuju ke CoASH. Hasil yang di peroleh dari tahap ini adalah asetil – ScoA dan reduksi asam lipoat. Langkah yang paling akhir adalah asam lipoat akan mengalami regenerasi yakni dengan berpindahnya elektron menuju NAD yang sebelumnya asam lipoat mengalami reduksi terlebih dahulu.

Nah, rekasi ini sebenarnya  bertujuan agar suplai dari asam lipoat akan teroksidasi secara langsung dan selalu ada untuk membentuk asetil – ScoA yang berasal dari asam piruvat. Pada tahap akhir akan membentuk 2 molekul asetil – CoA, 2 CO2 dan 2 NADH2.

3. Siklus Krebs

Siklus ini adalah proses terbongkarnya asam piruvat menjadi CO2, energi kimia dan air  dengan melalui aerob. Asetil – CoA ini adalah sebuah mata rantai yang menjadi penghubung siklus kreb dengan glikolis. Di dalam matrik mitokondria akan berlangsungnya reaksi ini. Siklus ini akan terjadi menjadi 2 fase yakni :

1. Fase Pembentukan Asam Sitrat

Fase awal siklus ini adalah kondensasi asetil – CoA bersamaan dengan asam oksaloasetat yang akan menghasilkan asam sitrat. Kemudian, CoSH akan terbebas dengan bantuan enzim kondensisasi sitrat.

2. Fase Regenerasi Asam Oksaloasetat

Hidrasi yang di alami asam sitrat oleh enzim akonitase akan menghasilkan sis- akonitat. Menggunakan reaksi yang sejenis maka asam sis – akonitat akan berubah menjadi asam isositrat. Kemudian asam isositrat akan berubah menjadi asam oksalosuksinat dengan di bantu oleh enzim isositrat dehidrogenase dan NADP. Setelah itu akan membentuk NADH2.

Reaksi selanjutnya adalah dekarboksilasi asam oksalosuksinat yang membentuk asam ketoglutarat. Kemudian akan dikatalis oleh enzim karboksilase yang menghasilkan CO2.

Kemudian,  asam suksinil – ScoA akan di hasilkan dari berubahnya asam α-ketoglutarat yang di bantu oleh enzim α-ketoglutarat dehisrogenase, CoASH dan NAD. Reaksi ini akan menghasilka  NADH2 dan CO2. Akan terbentuknya CoASH dan asam suksinat  yang berawal dari Suksinil ScoA yang berubah oleh bantuna suksinat tiokinase.

Pada reaksi tiokinase akan terjadinya penyimpana energi ke dalam tioester yang berasal dari suksinil – ScoA yang berfungsi untuk menjadikan ADP+IP berubah menjadi ATP. Kemudian terjadinya oksidasi asam suksinar menggunakan  FAD dan suksinat dehidrogenase akan menghasilkan asam fumarat. Reaksi ini juga akan mengubah FAD menjadi FADH2.

Terbentuknya asam malat dengan menggunakan enzim fumarase yang sebelumnya adala Asam fumrat. Kemudian asam malat akan berubah lagi menjadi asam oksaloasetat dengan bantuan malat dehidrogenase. Pada proses ini akan terjadi reduksi NAD  yang berubah menjadi NADH2. Kemudian akan membentuk regenerasi asam oksalosetat yang masuk ke dalam siklus kreb. Siklus kreb akan mengasilkan energi yakni 2 FADH2, 6 NADH2, 2 ATP dan CO2.

4. Transpor Elektron dan Fosforilasi Oksidatif

Proses siklus jreb dan glikolis  akan membentuk energi yang telah di simpan yakni NADH dan FADH.  Diperlukan adanya trasnpor elektron untuk membentuk ATP. Transpor elektron ini akan berproses di membran mitokondria di sebelah dalam. Dalam reaksi ini maka O2 akan menyerap dan menghasilkan H20. Akan tetapi molekul air dan oksigen tidak akan bereaksi dengan NADH dan FADH. Nah elektron yang terlibat akan di transfer dengan bantuan senayawa perantara. Senyawa akan di bentuk sebegai sistem pengankutan elektron pada mitokondria. Mulai dari senyawa perantara yang mengalami modifikasi cukup sulit untuk di reduksi kemudian akan melalui senyawa yang memiliki penerimaan elektron cukup besar.

Pada lintasan utama transpor elektron akan di awali dengan menggunakan 2 elektron dan 2 ion H+ yang kemudian di pindahkan ke NAD. Hal ini menyebabkan   NADH2 melakukan pemindahan 2 elektron dan dua ion ke enzim flavin kemudian melalukan reduksi. FADH2 akan melakukan reduksi suatu enzim besi yang memiliki keterkaitan dengan gugus SH. Senyawa ini akan mereduksi 2 molekul enzim porfirin – besi yang berpindah ke sitokrom b. Kemudian sitokrom b akan mereduksi kembali senyawa fenolik berubah menjadi kinoin dan ubiquinon. Pada titik yang ini maka ion H+ dan elektron akan di tambahkan kemudian di reduksi lagi sitokrom c, dua ion H+ kemudian melepaskan sistem pengangkutan.

Reaksi ini akan melengkapi pemindahan dua elektron oleh AH2  ke tingkat yang lebih rendah pada air. Energi kemudian tetap di lepaskan oleh oksidasi substrat dan di simpan ke dalam 3 ATP yang akan tetap di proses angkutan elektron di sintesiskan.

Pengertian Respirasi Anaerob

Respirasi anaerob merupakan sebuah proses respirasi yang tidak memerlukan oksigen untuk menerima H terakhir. Namun , akan menggunakan senyawa lain seperti etanol dan asam laktat. Kemudian asam piruvat yang menjadi hasilnya akan menjadi hasil akhir pada tahapan glikolisis. Yang mana asam piruvat dapat di metabolisasi berubah menjadi senyawa yang cukup berbeda.

Pada kondisi adanya ketersediaan oksigen atau aerobik maka sistem enzim mitokondria akan mampu untuk mekatalisis oksidasi yakni asam piruvat menjadi H2O, ATP dan CO2. Pada kondisi dimana Oksien tidak tersedia atau Anaerobik maka sel akan mengubah asam piruvat membentuk karbondioksida, ATP yang terbebaskan dan aetil alkohol.

Bisa juga terjadi asam oksidasi asam piruvat yang ada pada sel otot berubah menjadi karbondioksidan dan asam laktat yang meninggalkan ATP. Fermentasi merupakan proses paling akhir dalam reaksi yang lazim terjadi. Dalam tahap ini juga akan membutuhkan enzim yang terdapat pada sitoplasma sel. Adapun respirasi anaerob melalui beberapa tahapan di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Tahapan glikolisis yakni proses 1 molekul C6 telah di uraikan sehingga berubah menjadi asam piruvat, 2 ATP dan NADH.
  2. Pembentukan alkohol yakni proses fermentasi alkohol yang biasanya akan membentuk asam laktat.
  3. Tahap akseptor elektron yang akhirnya tidak berubah menjadi oksigen atau O2 tetapi menjadi asam laktat dan alkohol dengan menggunakan 2 ATP.

Perbedaan Respirasi Aerob dan Respirasi Anaerob

Setelah kita mengetahui beberapa proses respirasi aerob dan respirasi anaerob tentu kita sedikiti menyimpulkan perbedaannnya. Adapun perbedaan repirasi Aerob dan Anaerob adalah sebagai berikut :

No Respirasi Aerob Respirasi Anaerob
1. Terjadi pada semua makhluk hidup Hanya pada kondisi khusus
2. Akan berlangsung selama hidup Sementara
3. Menghasilkan energi besar Menghasilkan energi kecil
4. Tidak akan merusak tumbuhan Akan menjadi racun jika berlangsung  secara terus menerus
5. Di perlukan oksigen Tidak di perlukan oksigen
6. Menghasilkan CO2 dan uap air Menghasilkan CO2 dan asam laktat atau alkohol

Nah, itulah perbedaan keduannya. Memang sebenarnya cukup rumit untuk di pahami jadi mohon untuk di baca pelan – pelan agar bisa lebih mudah untuk di pahami. Semoga bermanfaat terimakasih.

Struktur Tumbuhan

Sel pada tumbuhan akan membentuk jaringan. Jaringan merupakan sebuah kumpulan sel yang memiliki struktur dan fungsi yang hampir sama. Selain itu jaringan tersebut terikat dengan bahan yang akan membentuk satu kesatuan. Jaringsn maristem adalah salah satu jaringan awal pembentukan. Jaringan maristem akan memisah dan membentuk kelompok yang tidak sama sehingga biasanya di sebut jaringan sederhana.

Jaringan sederhana biasanya akan terdiri dari beberapa sel yang memiliki struktur yang sama yakni kolenkim, parenkim dan sklerenkim. Jaringan meristem akan aktif dengan cara membelah diri dengan metode mitosis. Sel – sel baru akan terbentuk karena jaringan akan selalu bermitosis. Hal ini akan menyebabkan perubahan sifat pada secara diferensiasi.

Pembelahan sel seperti ini akan membuat pembentukan sebuah jaringan yang kompleks. Jaringan ini akan menjadi jaringan bukan meristematik.

Struktur Dan Fungsi Jaringan Tumbuhan

Adapun tumbuhan di kelompokan menjadi 6 macam diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Jaringan Meristem (Embrionik) Tumbuhan

Jaringan meristem merupakan jaringan mudah yang di miliki oleh sekelompok sel tumbuhan dalam membelah diri secara aktif. Sel meristem dapat menghasilkan sel baru yang di hasilkan dari proses membelah diri dan akan selalu di dalam sel meristem. Proses ini biasanya di kenal dengan sel permulaan. Nantinya sel yang baru akan di ganti posisinya dengan sel meristem yang biasa di kenal dengan sel turunan. Adapun ciri – ciri jaringan ini adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki ukuran yang kecil pada selnya
  2. Terdapat sel muda pada fase pembelahan dan pertumbuhan
  3. Memiliki dinding yang tipis pada selnya
  4. Terdapat nukleus yang cukup besar
  5. Ukuran sel yang kecil
  6. Terdiri dari sel-sel muda dalam fase pembelahan dan pertumbuhan
  7. Sel berdinding tipis
  8. Memiliki nukleus yang relatif besar
  9. Vakuola berukuran kecil
  10. Banyak mengandung sitoplasma
  11. Selnya berbentuk kubus

Macam-Macam Jaringan Meristem

Adapun beberapa macam – macam jaringan meristem adalah sebagai berikut :

Berdasarkan Posisi Dalam Tumbuhan
  1. Meristem apikal adalah jaringan meristem yang berada di bagian ujung utama, ujung lateral dan ujung akar.
  2. Meristem interkalar adalah jaringan meristem yang berada pada di antara sela – sela jaringan dewasa seperti pada meristem di pangkal ruas tumbuhan di rerumputan.
  3. Meristem lateral adalah jaringan meristem yang letaknya sejajar dengan di temukannya permukaan organ biasanya akan terjadi pada kambium gabus.
Berdasarkan Asal Usulnya
  1. Meristem primer adalah jaingan meristem yang akan berkembang selnya secara langsung dari meristem apikal.
  2. Meristem sekunder adalah sel yang akan berkembang dan dewasa jika sudah melalui proses deferensiasi seperti pada kambium gabus.

2. Jaringan Dewasa (Permanen) Tumbuhan

Jaringan ini adalah jaringan yang sudah mengalami terjadinya deferensiasi dan tidak akan mengalami pembelahan aktif lagi. Adapun ciri – ciri dari jaringan ini adalah sebagai berikut :

  1. Tidak memberlah diri lagi
  2. Memiliki ukuran yang besar bahkan lebih besar dari jaringan meristem
  3. Memiliki vakuola yang besar dan menimbulkan plasma sel yang tidak banyak sudah termasuk selaput pada dinding sel yang akan menempel
  4. Terdapat ruang antar sel pada sela – sela selnya
  5. Akan terjadi penebalan pada sel sehingga menyesuaikan pada fungsinya

Macam-Macam Jaringan Dewasa (Permanen)

Adapun beberapa macam jaringan dewasa diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Jaringan Epidermis (Pelindung)

Jaringan ini adalah sebuah lapisan yang berada di bagian external organ tumbuhan yakni seperti batang, daun , akar dan lain – lain. Jaringan ini memiliki fungsi untuk melindungi organ tumbuhan secara menyeluruh. Jaringan epidermis sebenarnya berasal dari protoderm yang mana akan rusak atau tetap saat sudah berusia tua. Namun, jika jaringan ini rusak maka akan di gantikan oleh gabus. Lapisan ini akan terdiri dari beberapa lapisan dengan bentuk dan besaran yang cukup beragam. adapun ciri – ciri jaringan ini adalah sebagai berikut :

  1. Tidak ada ruang sel karena antar sel rapat
  2. Sel – selnya hidup
  3. Jenis tumbuhan dan posisi akan mempengaruhi dinding sel
  4. Terdapat protoplasma yang hidup dan terdiri dari kristal garam, minyak, gula dan kristal silikat
  5. Terdapat vakulo yang memiliki ukuran besar dan terdapat antosianin
  6. Tidak memiliki kloroplas (selain pada hidrofit, sel penutup dan tumbuhan yang memiliki naungan)
  7. Terdapat modifikasi untuk membenruk divirat pada jaringan epidermis. Contohnya stomata, sel kersik, spina, vilamen, rambut – rambut dan sel kipas.

Adapun fungsi dari jaringan epidermis adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai pembatas penguapan
  2. Sebagai tempat untuk penyerapan dan tempat menyimpan air
  3. Untuk menyokong mekanik
b. Jaringan Parenkim (Dasar)

jaringan dasar merupakan jaringan yang berada pada tumbuhan di keseluruhan bagian. Jaringan ini biasanya di bentuk dari para sel yang hidup dengan menggunakan keberagaman struktur morfologis dan siologis. Jaringan ini biasanya di kenal sebagai jaringan dasar. Hal ini di karenakan jaringan parenkim memiliki peran yang khusus untuk menyusun beberapa jaringan pada akar, biji daun dan bagian eksternal lainnya. adapun ciri – ciri dari jaringan ini adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki dinding yang tipis dan memiliki sel yang besar
  2. Sel membentuk segi enam
  3. Dasar sel mendekati letak inti sel
  4. Vakuola yang banyak
  5. Memiliki sifat embrional dan meristematik
  6. Memiliki ruangan antar sel

Adapun  fungsi dari jaringan parenkim adalah sebagai berikut :

  1. Untuk menyimpan makanan cadangan
  2. Tempat untuk fotosintesis
  3. Untuk menyokong jaringan

Pengelompokan  Jaringan Parenkim (Dasar)

Terdapat pengelompokan jaringan parenkim di antaranya adalah sebagai berikut :

Berdasarkan Fungsinya
  1. Parenkim asimilasi adalah jaringan dasar yang memiliki kandungan klorofil dengan fungsinya untuk berfotosintetis.
  2. Parenkim air adalah jaringan dasar yang biasanya terdapat pada tumbuhan epifit yang biasanya untuk menyimapn air dalam menghindari terjadinya kekeringan pada musim kering.
  3. Parenkim penimbun adalah jaringan dasar yang memiliki fungsi untuk menyimpan cadangan makanan. Jaringan ini biasanya akan berada di buah, akar, batang dan lain – lain. Umumnya makanan tersebut akan memiliki bentuk seperti zat padat, tepung, lemak, gula dan protein.
  4. Parenkim udara adalah jaringan dasar yang memiliki ruang antar sel yang bertujuan untuk sebagai pengapung tumbuhan air. Biasanya jaringan ini terdapat pada tangkai daun camma sp.
  5. Parenkim pengangkut adalah jaringan yang memiliki fungsi untuk menjadi pembuluh pengangkut air ataupun makanan.
Berdasarkan Bentuknya
  1. Parenkim palisade adalah karingan yang di gunakan untuk menyusun mesofil daun. Jaringan ini biasanya akan memiliki biji dengan bentuk panjang dan tegak serta di dalamnya banyak mengandung kloroplas.
  2. Parenkim bunga karang adalah jaringan jaringan yang di gunakan untuk menyusun mesofil dengan memiliki ukuran yang tidak tetap dan ada ruangan yang lebar antar selnya.
  3. Parenkim bintang adalah jaringn yang memiliki bentuk menyerupai bintang dengan memiliki sambungan di bagian ujung dan biasanya terdapat pada tangkai daun Canna sp.
  4. Parenkim lipatan adalah jaringan dasar yang memiliki lipatan ke arah dalam di bagian sel dindingnya dan memiliki kloroplas yang cukup banyak. Biasanya jaringan seperti ini akan terdapat di daun pinus.

3. Jaringan Penyokong/Penguat (Mekanik) Tumbuhan

Jaringan penguata merupakan jaringan yang memiliki fungsi untuk menguatkan bagian tumbuhan untuk beridir tegak.

a. Jaringan Kolenkim

Jaringan kolenkim adalah jaringan penguat yang terdapat pada tumbuhan herba dan tumbuhan muda. Kolenkim sendiri adalah sel yang hidup dan memiliki sifat hampir sama dengan parenkim. Di dalam  jaringan ini memiliki sel yang berisi kloroplas untuk proses fotosintetis. Susunan sel hidup dengan bantuan protoplasma yang aktif akan membentuk kolenkim. Kolenkim memiliki tebal yang tidak rata dan memanjang. Jaringan ini memiliki fungsi untuk menguatkan tumbuhan. Selain itu, jaringan  ini memiliki fungsi untuk melindungi biji dam belas veskuler. Adapun ciri – ciri dari jaringan kolenkim adalah sebagai berikut :

  1. Strukturnya kuat dan tebal
  2. Terdapat spesialisasi
  3. Berada pada batang, biji dan daun
  4. Pada sudutnya akan terjadi penebalan
  5. Selulosa salah satu entuk penebalan
  6. Akan beruntai dan silinder

Adapun beberapa fungsi jaringan ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk menguatkan dan menunjang bentuk dari tumbuhan
  2. Untuk melindungi berkas yang akan di angkut
  3. Untuk menguatkan jaringan dasar

4. Jaringan Sklerenkim

Jaringan sklerenkim adalah jaringan penguat dari sel mati dengan memiliki kekuatan pada dinding sel, tebal dan di dalamnya mengandung lignin. Jaringan ini memiliki 2 macam pada bentuknya yakni serabut dan sel batu. Serabut ini sebenarnya berasal dari jaringan meristem yang memiliki sel panjang dan membentuk anyaman karena bergerombol. Biasanya jaringan ini terdapat pada pelepah daun pisang. Adapun contohnya seperti pada kulit biji beras dan tempurung kelapa. Ciri – ciri dari jaringan ini adalah sebagai berikut :

  1. Dinding sel akan menebal di seluruh bagian yakni lignin
  2. Sel mati
  3. Tumbuhan yang tidak memiliki pertumbuhan dan perkembangan akan memiliki jaringan ini
  4. Jaringan ini berada pada korteks, floem dan perisikel.

Adapun beberapa fungsi jaringan ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk menjadi tameng pertahanan yang memiliki tekanan luar
  2. Sebagai pelindung dan penguat pada sel bagian dalam
  3. Untuk menyokong jaringan lain

5. Jaringan Pengangkut

Jaringan ini adaah jaringan yang memiliki fungsi untuk menjadi pengangkut zat. Adapun jaringan ini terbagi menjadi dua bagian diantaranya sebagai berikut :

a. Xilem

Xilem adalah alat untuk mengangkut zat makanan yakni berupa air dan mineral menuju daun dan bagian lainnya yang semula di akar.  Adapun xilem ini memiliki 3 macam diantaranya sebagai berikut :

  1. Unsur trakeal yakni yang terdiri dari sel dengan bentuk tabung (trakea) dan sel yang memiliki bentuk panjang dengan lubang selnya (trakeid).
  2. Serabut xilem yakni terdiri dari sel yang panjang dengan meruncing di bagian ujungnya
  3. Parenkim xilem yakni memiliki isis zat dengan berbagai cadangan makanan, kristal dan tanin

b. Floem

Floem adalah jaringan pengangkut zat makanna yang di hasilkan dari proses fotosintetis ke seluruh bagian bersumber dari daun. Adapun sunan dari floem adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki bulu tapis yang memiliki bentuk tabung dan terdapat lubang pada ujungnya
  2. Terdapat sel pengiring yang memiliki bentuk silinder mendekati plasma
  3. Serabut floem dengan bentuk panjang , dinding tebal dan ujungnya berimpit
  4. Parenkim floem yakni sel hidup dengan dindinng primer yang memiliki noktah (lubang) dan di dalamnya memiliki isis tepung, damar ataupun kristal.

6. Jaringan Gabus

Jaringan gabus adalah jaringan yang memiliki susunan sel – sel gabus dengang bentuk memanjang. Jaringan ini memiliki fungsi untuk sebagai pelindung jaringan lain yang berada tepat di bawahnya sehingga akan tidak menghilangkan air. Umumnya sel gabus akan berada di luar batang tepat di permukaan. Adapun ciri – ciri jaringan ini adalah sebagai berikut :

  1. Berasal dari susunan parenkim gabus
  2. Sel ini adalah sel kosong atau mati
  3. Memiliki bentuk yang panjang dan memiliki dinding gabus

Macam-Macam Jaringan Gabus

Adapun beberapa macam jaringan gabus adalah sebagai berikut :

  1. Felem adalah jaringan yang memiliki bentuk dari kambium gabus dan sel mati
  2. Feloderm adalah jaringan yang memiliki bentuk dari kambium gabus dan memiliki arah kedalam serta selnya hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.